Madiun, Pahit menggigit.... Tapi aku selalu menyukainya.... Dark Chocolate.... Seperti biasa, aku duduk menunggu di kursi ini. Kursi yang sama setiap harinya. Dengan hati yang sedang tidak tertata. Ada perasaan kesal, marah, dan tidak sabar. Pagi ini sedikit berantakan. Apa yang sudah kurencanakan sejak kemarin sore hanya tinggal rencana. Ada beberapa hal yang membuatku harus beradaptasi dan jalan terus. Ingin marah, tapi tak tahu siapa yang harus kumarahi. Ingin mengeluh, tapi tak tahu apa yang harus kukeluhkan. Tak ada yang perlu disalahkan, tak ada yang perlu kukeluhkan, tak ada sama sekali. Bukankah sepagi ini juga banyak pertolongan dari Allah swt untukku, melalui orang-orang yang ada sekitarku. 'fiiuuuuuh....' aku menghela nafas sejenak, menjaga hatiku agar tetap dalam kondisi yang baik. Kutatap sekelilingku. Antrian yang tidak begitu banyak sebenarnya. Lebih sepi daripada hari-hari sebelumnya. Kutatap seorang laki-laki yang duduk di kursi sebelahku. Dia dia...
hoaem..., ngantuk,,, setelah semalam tidur jam 00.43 gara2 ngobrol nggak jelas sama cloud..., xixixi,,,, nggak jelas apa yang diomongin sambil tidur dipangkuan cloud, dengan posisi kepala cloud dikakiku dan kepalaku dikakinya, lah,??? bener2 kurang kerjaan..., ngakak dan segudang cerita... xixixi, aku sih yang cerita bukan dia... biz cloud nggak mw cerita sih ^^ suatu hari nanti kita pasti akan merindukan saat2 seperti ini cloud... T_T lalalalalalala..., walo ngantuk tak apa, yang penting aku dah dapet buku Ranah 3 Warna -nya A. Fuadi, buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara ..., ayaiyai.... :D fufufu..., nggak bawa si sony jadi narsis aja pake webcam si Tyrex ,,, burem 'coz mang cuma 1,3 MP. Semoga bisa sampai selesai bacanya. Padahal kemarin masih ada beberapa buku yang lom khatam, dah lama aku belinya tapi lom kebaca satupun. Gara2nya waktu itu 'gi keranjingan buku, pesen buku online bejibun ... ending -nya lom kelar kebaca semua, udah nggak mood buat baca. Sebenarnya pe...
Madiun, Mencuri waktu di kantor... Maaf... "Aku akan sangat merindukanmu" aku memeluk Delia erat. Satu per satu teman-temanku juga melakukan hal yang sama. Delia tampak tersenyum, meskipun matanya berkaca-kaca. Hari ini adalah hari terakhir Delia di kantor. Delia memutuskan untuk resign . Keputusan yang bagiku sangat luar biasa. Sebelumnya, Delia sudah membicarakan hal ini denganku. Meskipun aku mendukung keputusannya, aku sendiri tidak yakin kalau aku bisa melakukan hal yang sama. Pada dasarnya, teori dan praktik tidaklah semudah kedengarannya. Siang itu, setelah makan siang, aku dan Delia bicara serius. Delia memberitahuku tentang keputusan untuk keluar dari pekerjaannya, dan kembali ke kampung halaman suaminya. Aku cukup terkejut, karir Delia cukup bagus. Suaminya juga memiliki pekerjaan yang diidamkan banyak orang. Bisa kubilang, kehidupan Delia dan suaminya adalah kehidupan yang menjanjikan. Kenapa mereka memilih untuk keluar dari pekerjaan mereka? Dan alasan...
Komentar
Posting Komentar