Postingan

Menampilkan postingan dengan label hati seluas samudera

TUESDAY'S CORNER

Gambar
pic from islamidia.com Madiun, Ramadhan kedelapanbelas You can't make yourself stop dreaming, Who you're dreaming of, If it's who you love, then it's who you love... (Who you love-John Mayer) Kamar ini tidak banyak berubah, sebuah tempat tidur ukuran 120 x 200 dengan dipan yang sudah dimakan rayap di kanan dan kiri. Sebuah lemari pakaian, rak buku, dan juga kaca setengah badan. Kubuka lemari kayu yang dari luar tampak masih sangat bagus, ada stiker princess yasmin di sudut kanan atas dan beberapa stiker bunga mawar merah, hanya ada beberapa pakaian saja, dan berjamur karena tidak pernah digunakan. Aku menutup lemari kayu dengan tinggi 120 cm ini, di atas lemari kayu ada beberapa barang yang sudah berdebu. Dua figura photo ukuran 2R bersanding dengan keranjang serbaguna warna hijau yang berisi sisir, penjepit rambut, potongan kuku, dan berbagai barang-barang yang juga berdebu. Disebelahnya lagi, ada tumpukan buku-buku yang tidak kalah berdebu dan kotor. Mes...

HATI SELUAS SAMUDERA #10

Gambar
Pantai Pasir Putih, Trenggalek Madiun, Mencoba mencari harapan dari setiap cobaan Tetap saja dalam tawa mengalir air mata seluas itu-pongki barata  " meet up yuk.." tanpa berpikir dua kali kureply sms dari Pia. Aku tak pernah bisa menolak ajakannya. Bukan karena apa-apa, tapi karena bagiku dia sahabat yang selalu ada buatku, kapanpun, dalam keadaan apapun. Sore ini, sepulang dari kantor aku melajukan outlander sport kesayanganku. Soal yang ini, banyak yang bilang pilihanku terlalu macho untuk perempuan sepertiku. Apa boleh buat, aku suka petualangan. Sekitar lima belas menit aku sampai di salah satu rumah teh favoritku dan Pia biasa nongkrong .  Aku melihat Pia sudah menunggu bersama seseorang. Mungkin temannya. Aku menghampiri mereka. "hai... sorry telat, baru bisa cabut nih agak rempong di kantor" aku menyapa Pia yang tengah menyeduh ice chocolate tea dengan kayu manis, yang sebenarnya jarang dia pesan. Aku mengambil kursi di depannya, melamba...

HATI SELUAS SAMUDERA #9

Gambar
pantai goa cemara, sanden, bantul Madiun, And God knows That it's hard to find the one But in time, all the flowers Yes in time All the flowers turn to face the sun  James Blunt - Face the Sun Mengumpulkan potongan kata dan merajutnya menjadi satu kalimat itu tidaklah mudah. Finally, aku akan menulisnya dalam bentuk cerpen. Karena aku lebih mudah merangkai kata per kata. Ini salah satu tulisan yang kujanjikan tentang perjalanan 6 jam di bus dari Jogja-Madiun mudik akhir bulan lalu.  "kosong..." aku terkejut dengan sapaan seorang bapak. Aku menoleh, dan tersenyum. Mengangguk. Bapak itu duduk di sebelahku, sambil mengucap bismillah. Aku kembali menatap ke luar jendela. Aku menyiapkan seluruh mental dan fisik untuk perjalanan ini. Bus antar kota yang akan mengantarku ke tujuan. Semoga aku mengambil banyak pelajaran hari ini. Di luar, kulihat kondektur bus sibuk membantu para penumpang menata barang-barang di bagasi. Ini bukan bus patas, ini hanya...

HATI SELUAS SAMUDERA #8

Gambar
Madiun, Belajar kembali memaknai luasnya hati manusia "kau lihat air dalam gelas ini?" En membuyarkan lamunanku "mm.." jawabku pendek. "menurutmu, apa yang akan terjadi jika aku memasukkan kelereng ke dalamnya?" En mengambil beberapa kelereng milik adiknya, menggenggam dan menimangnya sesaat. "tentu saja airnya akan meluap. Tumpah" aku menjawab datar. Plung. En nyengir memasukkan kelereng ke dalam gelas yang berisi penuh air. Aku menatapnya dingin 'childish'. Plung. En kembali memasukkan kelereng lainnya, aku masih diam saja enggan menanggapi tingkahnya yang kekanak-kanakan. "Sa, ayahku dulu selalu bilang agar aku meluaskan hatiku seperti samudera. Kenapa? Karena jika hatiku seluas samudera, masalah apapun tidak akan mampu mempengaruhi hatiku. Tidak seperti air dalam gelas ini. Karena tempatnya terlalu kecil, air ini meluap saat ada sesuatu yang masuk ke gelas. Coba bayangkan jika air ini ada di samudera, tempat yang begitu lu...

HATI SELUAS SAMUDERA #7

Gambar
Telaga Ngebel, Ponorogo, Jawa Timur Madiun, 05 November 2014 Kembali Menulis… “Itu kakakmu?” Reifan bertanya saat melihat sesosok perempuan cantik dengan balutan busana seksi menyanyi di kafe malam itu. Aku hanya tersenyum malu. “Dia cantik, berapa semalam?” Tyo menambahkan sambil berkelakar disambut tawa teman-temanku. Dengan sigap aku memegang kerah baju Tyo hendak memukulnya, sebelum Reifan dan yang lain menghentikanku. “Hei… dia hanya becanda, jangan diambil hati Han” Reifan mengingatkanku. “becanda kalian tidak lucu” aku melepaskan tanganku dari kerah Tyo, muka Tyo sudah memerah entah karena tidak menyangka dengan reaksiku atau karena dia marah dengan sikapku. Malam itu, aku dan teman-temanku tak sengaja melihat kakakku, Wening yang menjadi penyanyi kafe ketika sedang dalam perjalanan pulang dari bakti sosial kampus. --------- “Ini jam berapa? Baru pulang?” aku sengaja menunggu kakakku pulang hingga jam 03.00 dini hari. Ibu sudah tidur karena tidak ena...

HATI SELUAS SAMUDERA #6

Gambar
Madiun 11 Mei 2011, 09.54 wib perempuan tua yang terbujur lemas di kamar ini tampak sangat teduh. Wajahnya penuh keriput, dialah ibuku yang telah berjuang keras demi anak-anaknya. Laki-laki tua di sampingnya tampak dengan bebas menyulut lintingan nya. Dialah ayahku, laki-laki yang hanya tahu untuk makan tanpa pernah memikirkan kehidupan anak-anaknya. "pak, maaf... ini rumah sakit, kalau mau merokok di luar saja" aku berujar dengan sangat sopan. Bagaimanapun juga dia orang yang harus kuhormati dan tempat ku berbakti, meskipun aku tahu dia tak menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah dengan baik. Laki-laki itu beranjak dari duduknya sambil bergumam tak senang. Aku hanya mencoba sabar. "istrimu mana Le ,?" ibu yang tampak lemah tiba-tiba bertanya. "Asih baru nyuci baju di kamar mandi bu.." aku menjelaskan. Ah, istriku itu... dia sangat sabar dan telaten merawat ibuku selama sakit, pakaian kotor dan bau pesing tak pernah dia keluhkan. Aku be...