Postingan

Menampilkan postingan dengan label celoteh dua hati

CELOTEH DUA HATI #6

Gambar
Menulis itu candu, Maka jangan pernah berhenti menulis First Heart POV Aku menghela nafas kesal, ini sudah lebih dari satu bulan, entah sudah berapa kali aku bolak balik ke bank ini hanya untuk mengecek apakah uangku sudah masuk ke rekeningku atau belum. Tetapi hasilnya nihil. Tidak ada setoran uang masuk sama sekali. Pikiran buruk mulai muncul satu per satu. Tidak tahukah mereka, bahwa aku memerlukan uang tersebut. Mungkin bagi beberapa orang itu bukan nominal yang besar, hanya beberapa ratus ribu saja. Tetapi untukku, itu bisa menyambung hidupku dan keluargaku. Aku memerlukan uang itu, apalagi aku baru saja dipecat dari pekerjaanku. Hidup ini keras kawan. Aku mencoba menghubungi sebuah nomor telepon perusahaan dimana aku seharusnya mendapatkan uang itu. Tidak ada jawaban. Aku coba mengirimkan pesan, sama saja tidak ada balasan. Bahkan mungkin tidak dibaca. Kemana orang-orang itu, apakah mereka sengaja? Apakah mereka berniat menipu? Kesabaranku habis, ini sudah satu bul...

CELOTEH 2 HATI #5

Gambar
pict from www.jagatspot.com Madiun, Embun... Kenapa aku malas menyapamu hari ini Adakah yang salah denganmu? Atau aku? Tak peduli apa atau siapa, aku hanya ingin kau tak membenci.... Pertengkaran itu terjadi begitu saja dalam kediaman. Aku sendiri sudah merasakan ada jarak yang memisahkan sejak beberapa hari lalu. Pemicunya apa, aku tak mengerti. Yang aku tahu, baik diriku, dirimu, maupun dirinya semuanya merasa terluka. Terluka dengan luka masing-masing. Sebenarnya, semua tidaklah serumit ini. Hanya kita yang membuatnya rumit. " lu benar-benar sudah tidak bertegur sapa dengannya?" pagi itu aku menghampiri Theodore sembari membawa secangkir kopi. Menenangkan. "dengannya siapa?" entah memang tak tahu atau pura-pura tidak tahu, Theo asyik dengan keyboard dan jemari-jemarinya. Aku menarik kursi, duduk di depan meja kerjanya sembari menyesap kopi robusta di cangkirku. Melegakan. "Siapa lagi... Dhiandra-lah" aku antusias, kepo, penasaran, apa...

Celoteh Dua Hati #4

Madiun, Jam Makan Siang.... Dia dermawan , tapi sombong... Dia sombong, tapi dermawan... Dia tampan, tapi bodoh... Dia bodoh, tapi tampan... Dia pintar , tapi cacat... Dia cacat, tapi pintar... feel the difference....

Celoteh 2 Hati #3

A : ini tidak seperti pikiran mereka B : tapi yang mereka lihat seperti itu A : cara berpikir mereka harus diubah B : kebiasaanmu juga harus diubah A : kenapa harus aku? B : kenapa harus mereka?

Celoteh Dua Hati #2

Gambar
pic from narutorealm.wordpress.com "aku minta maaf" Dea sedikitpun tak berani menatap Lea. "kau pikir itu mudah dimaafkan?" Lea terlanjur sakit hati. "terus aku harus gimana? semua sudah terjadi" Dea tahu, menyesalpun percuma. Waktu tak bisa kembali lagi. "Makanya, kalau mau bertindak itu dipikir dulu. Kamu terlalu arogan" Lea benar-benar kesal. Mereka meninggalkan tempat itu masing-masing tanpa penyelesaian. Dea POV Apa yang harus kulakukan? semua sudah terjadi. Aku tak menampik, kalau aku melakukan hal itu awalnya hanya untuk senang-senang. Tapi aku benar-benar ingin minta maaf, semua sudah terjadi. Jika waktu bisa diputar ulang dan aku tahu kejadiannya akan seperti ini, aku tidak akan melakukan hal itu. Ini bukan masalah besar. Cepat atau lambat semua orang akan melupakannya, tak perlu diperpanjang. Semua telah terjadi, diperpanjangpun hanya akan memperumit masalah bukan menyelesaikan masalah. Aku benar-benar menyesal, sean...

Celoteh Dua Hati

Gambar
pic from styledip.com Senja menguning di kota ini,salah satu SPBU tampak sangat ramai dan penuh antrian. Seorang nenek tengah duduk didekat SPBU ditemani tongkat kayu dan gelas plastik bekas air mineral. Beberapa pengisi bahan bakar berbaik hati memasukkan keping maupun lembar rupiah ke dalam gelas sang nenek. Seorang wanita yang kebetulan juga sedang mengantri bahan bakar memasukkan selembar uang lima ribuan ke gelas sang nenek. 'kasian nenek itu, sejak aku pindah ke kota ini 10tahun lalu hingga sekarang masih saja jadi pengemis. Dimana suaminya? Dimana anak-anaknya? Sebegitu tak pedulikah mereka pada nenek itu?' sang wanita merasa iba. Sang nenek yang mendapat selembar lima ribuan tampak sangat bahagia. Jarang sekali orang memberinya uang sebanyak itu. Tentu saja dia tahu siapa yang memberinya, wanita itu sering mengisi bahan bakar di SPBU ini. Terkadang dia bersama suami dan anaknya. Sudah beberapa tahun lamanya sang nenek mengenal wanita itu meskipun tidak per...