Postingan

Menampilkan postingan dengan label deanta

DELIA

Gambar
part. 2 cerita sebelumnya  part. 1 pic from here Kampung ini cukup menyenangkan. Entah sudah berapa lama aku tidak kembali ke kampung halaman. Melihat kampung ini, mengingatkanku pada kampung halaman. Ini sudah hampir 20 bulan sejak Delia dan suaminya memilih resign dari pekerjaannya. Bukan sesuatu yang kebetulan aku berada di sini. Aku sengaja menyempatkan diri ke sini karena aku merindukan Delia. Sejak Delia memutuskan resign ikut suaminya kembali ke kampung halaman menemani sang ibu yang tinggal sendirian, ada suara-suara yang mengganggu kepalaku. Aku berusaha menikmati rutinitasku bersama teman-teman lain, tapi tidak memberikan ketenangan atas kegelisahanku. Tidak terlalu sulit untuk menemukan alamat Delia. Seperti kebanyakan orang di kampung, kalian bisa dengan mudah menanyakan seseorang kepada siapapun tanpa khawatir orang itu tidak mengenal orang yang kalian tanyakan. Hal ini sangat berbeda ketika aku memasuki duniaku sekarang di kota. Aku bahkan tidak ...

DELIA

Gambar
Madiun, Mencuri waktu di kantor... Maaf... "Aku akan sangat merindukanmu" aku memeluk Delia erat. Satu per satu teman-temanku juga melakukan hal yang sama. Delia tampak tersenyum, meskipun matanya berkaca-kaca. Hari ini adalah hari terakhir Delia di kantor. Delia memutuskan untuk resign . Keputusan yang bagiku sangat luar biasa. Sebelumnya, Delia sudah membicarakan hal ini denganku. Meskipun aku mendukung keputusannya, aku sendiri tidak yakin kalau aku bisa melakukan hal yang sama. Pada dasarnya, teori dan praktik tidaklah semudah kedengarannya. Siang itu, setelah makan siang, aku dan Delia bicara serius. Delia memberitahuku tentang keputusan untuk keluar dari pekerjaannya, dan kembali ke kampung halaman suaminya. Aku cukup terkejut, karir Delia cukup bagus. Suaminya juga memiliki pekerjaan yang diidamkan banyak orang. Bisa kubilang, kehidupan Delia dan suaminya adalah kehidupan yang menjanjikan. Kenapa mereka memilih untuk keluar dari pekerjaan mereka? Dan alasan...

DEANTA (end)

Gambar
baluran by Isnanto Part.4  ..... Aku duduk di atas kursi bambu yang dibuat oleh Kang Yopi. Dinginnya udara malam ini menembus ke dalam pori-poriku menggelitiki semua saraf-sarafku. Kutatap langit, bintang enggan muncul setelah hujan sore tadi, gelap gulita. Suara jangkrik dan binatang malam bersahut-sahutan. Sesekali nyamuk ikut menemaniku. Aku tak tahu perasaan ini, sepi, tapi aku tak pernah takut kesepian disini. Inilah rumah. "nduk, ndak masuk? ini dah malam ra elok cah wedok ..." suara Ibu dari dalam rumah memanggilku. "Sebentar lagi bu..." aku masih ingin menikmati rasa sepi ini. Aku menyukainya. Tenang. "Sepi yo ..." kang Yopi tiba-tiba saja duduk di sampingku. Aku menoleh, kaget, khayalanku hilang. " eh? " aku bengong melihat kang Yopi. "Ngalamun maneh ?" kang Yopi menatapku, aku tersenyum. " Iyo kang... Sepi..." kutimpali sekenaku. " Kota piye nduk? isih rame? " kang Yopi memutuskan menemaniku du...

DEANTA (Part. 4)

Gambar
Part 3 .... " Nduk , ibu bohong kalo ibu tidak ingin memiliki kebahagian ibu sendiri...." Aku menatap lekat ke mata ibu, ada seulas senyum terpancar dengan begitu tulus. Meskipun harus hidup dengan penuh kekurangan seperti ini, Ibu tetap saja tersenyum. Aku tak pernah melihat ibu mengeluh. Yang ada justru akulah yang sering mengeluh, mempertanyakan kenapa Ibu bisa setegar ini, sekuat ini. Yang membuatku terus ingin berusaha membahagiakan Ibu. Sungguh, aku selalu bersyukur dengan apa yang kumiliki. Ibu dan kang Yopi, adalah hartaku paling berharga. Memiliki mereka berdua membuatku selalu bahagia. Merekalah yang mendorongku untuk menjadi lebih baik. Bahkan , aku ke kota juga karena ingin membahagiakan mereka. Dan sekarang.... lihatlah diriku. Deanta yang sudah tidak kukenali lagi. "siapapun pasti ingin memiliki kebahagiaan mereka sendiri. Tapi nduk , kebahagiaan itu sejatinya hanya sesuatu yang dibuat manusia itu sendiri, tidak tampak oleh mata. Apa kamu ti...

DEANTA (Part. 3)

Part 2 ... Kebahagiaan itu tiba-tiba lenyap, ketika aku melihat sekitarku. Aku merasa telah berada jauh dari tujuanku. Hatiku mulai mati, sedikit demi sedikit tanpa kusadari jiwaku mulai tak memiliki rasa lagi. Aku kehilangan jati diriku, Deanta yang dulu. Tak banyak yang berubah sebenarnya, tak ada yang memprotesku atas perubahanku yang tidak terasa. Tapi justru hati ini yang memprotes keras. Aku merasa telah mengkhianati diriku sendiri. Tujuan awalku ke kota adalah untuk mengangkat derajat keluargaku. Membantu meringankan beban ibu dan Kang Yopi, sukur-sukur bisa berbagi dengan orang-orang kurang beruntung dan memajukan tetanggaku. Awalnya aku ingin menjadi malaikat, berhati mulia dengan segala apa yang kupunya. Membagi kebahagiaanku pada mereka, agar mereka bisa ikut bahagia. Tapi aku salah, kehidupanku telah mematikan hatiku. Aku tak lagi peduli dengan semua itu. Bilapun aku peduli, itu hanya tersisa tak lebih dari 10% dari niat awalku. Aku sadar sepenuhnya, tapi tak mau beru...

DEANTA (Part. 2)

Gambar
Part1 ... "kamu harus bisa jaga diri ya nduk, baik-baik di tempat orang. Tansah eling marang kang nggawe urip " mata ibu berkaca-kaca sambil terus menciumiku. Tangan kasarnya memegang wajahku, namun terasa lembut. " hidup di kota, harus punya prinsip De...!!! pegang terus niat awal kamu ke kota" Kang Yopi mengusap rambutku lembut. Mendapat perlakuan seperti ini membuatku luluh, ada perasaan berat meninggalkan mereka. -------- Aku baru semester lima saat memutuskan berhenti kuliah. Bukan karena aku malas, tapi karena keadaan ekonomi. Seperti apa ibu dan Kang Yopi bekerja keras, tak cukup untuk membiayai kuliahku. Aku kasian melihat mereka bekerja keras siang malam demi aku, akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan kuliahku dan mencari pekerjaan ke kota. Kang Yopi menolak keras keinginanku, bahkan Kang Yopi berjanji akan bekerja apapun dan lebih keras lagi untuk menambah biaya kuliahku. Aku tak tega, dan nekat melamar pekerjaan ke kota tanpa pengetahuan ibu dan ...

DEANTA

Gambar
CobanRondo-Batu Sore di desa ini masih sama, udara yang kuhirup beberapa tahun lalu sebelum aku meninggalkan desa ini tetap masih sama. Kuhirup kuat-kuat, semilir angin yang merasuk menembus dinding-dinding tipis kulitku. Sedikit sakit di hidung karena dinginnya udara sore ini. Aku menatap lepas ke arah lapangan bola dibawah bukit. Anak-anak telanjang dada dan tanpa alas kaki berlari kesana-kemari mengejar bola. Hujan yang baru saja berhenti membuat kaki mereka penuh lumpur. Badan cungkring yang hanya berbalut tulang terjatuh oleh dorongan temannya yang lebih berisi. Tapi dia pantang menyerah, bangkit dan berlari mengejar kulit bundar, ah plastik bundar tepatnya. Aku tertawa kecil, anak itu luar biasa. "menyenangkan bukan?" aku tersentak oleh suara laki-laki yang tiba-tiba muncul di belakangku. " kang .. ada apa?" rupanya kang Yopi, kakak laki-lakiku satu-satunya. "Dicari ibu" kang Yopi duduk disampingku diatas bukit menikmati udara sore itu. ...